Jumat, 24 Februari 2012

tentang prolog dan epilog titik

Rasanya semakin lama semakin memudar. Saat yang lain sibuk terlelap, aku malah terjaga. Ini bukan cerita aku dengan siapa, aku siapa, aku sedang apa atau bagaimana. Ini hanya sekelumit cerita yang pastinya sangat membosankan untuk sekedar disimak. Karena memang tidak ada habisnya, tetapi jelas akan menjumpai titik. Walaupun mengambang tanpa kejelasan.
Alamatnya sebetulnya jelas dan gamblang tersirat, tapi saat tersurat bisa begitu sulit, maka pertanyaan kembali berputar. Kemana bahasa yang tersirat sebelumnya. Kembali memutar otak. Memeras apa itu pola pikir. Waw. Masih tetap sama. Nol.
Ibarat kejadian, mungkin mirip dengan air yang akan mendidih. Blutuk blutuk. Pilihannya dibiarkan lalu meluap kemana mana, atau matikan kompornya.
Sekarang masih tetap sama, berkutat dengan cerita tanpa awal dan akhir. Tanpa start dan finish. Tanpa jeda. Mungkin lebih mirip iklan atau poster jalan raya yang lapuk. Hanya sebuah prolog dan epilog dengan tambahan titik.

Jumat, 27 Januari 2012

Bercerita dengan sore

Sore yang cerah, oranye dan terang, menemani laju motor yang kira kira hanya dipacu sekitar 50km/jam. Suasananya begitu menyenangkan. Terlalu enggan untuk cepat-cepat sampai tujuan. Terlalu menikmati sore pada saat itu. Sepertinya arahnya makin jauh dari tujuan tapi tetap saja dilanjutkan, karena memang terasa sangat menyenangkan. Merasa sangat berkawan dengan kesendirian. Seperti lari dari sesuatu yang begitu menghimpit, memaksa keluar dari entah apa itu namanya. Begitu rancu dan kurang jelas. Tapi sore itu sekali lagi, sangat berkawan.
Sedari kecil diajarkan untuk menghargai orang lain, menghargai pemberian orang lain, menghargai barang barang yang ada, tapi sepertinya terlalu banyak pesan sehingga yang paling sederhana terlupakan,, menghargai Sore !
sederhana tapi lupa untuk diajarkan.

Kamis, 17 November 2011

Perahu Kosong

Saat perahu yang terombang-ambing ombak, sering kali terbersit penyesalan mengapa harus melaut. Seperti sebuah pilihan, ending apa yang telah menanti. Berharap akan tepat seperti rancangan. Tapi tak heran juga ketika akan melenceng begitu jauh. Ya, rasanya itu seperti tanpa pegangan. Terlalu yakin, khawatir akan meleset. Namun ketika tanpa keyakinan nyata, maka tak ayal menjadi begitu ringkih. Yang dipertanyakan adalah yakinkah ketika apa yang terhampar di depan adalah apa yang kita inginkan?
Terlalu ruwet pola pikir manusia. Sama seperti benang. Ketika gulungan mulai terbuka, maka tariklah hingga habis atau biarkan polanya tanpa sentuh, cukup membuka bungkusnya. Yang merasa ragu, cukup pejamkan mata dan langkahkan kaki kalian. Yang terlalu yakin, maka biarkan keyakinan itu membawa kalian entah kemana.
Seperti sebuah sisipan sebuah cerita kehidupan yang kian hari lembarannya kian penuh dengan coretan, atau mungkin akan memudar warnanya karena tak tersentuh. Bukan tentang aku atau apapun itu, tapi apa yang tersirat dalam sebuah pola pikir yang sering kali melebihi kapasitas.
Sambil terus mengetik, yang entah karena apa tapi begitu tekun menceritakan tentang hal entah apa. Berkali-kali menengok barang elektronik butut yang untuk kesekian kalinya memang tanpa ada kehidupan. Wah, sepertinya memang sendiri. Persis seperti barang mati yang berharap bakal ada sahutan dari apa yang diharapkan. Tapi sinyal sepertinya tidak mengantarkan apa yang dipikrkan. Atau mungkin telah sampai, tapi memang tidak mengharapkan sinyal yang dikirim.
Berharap semudah mengirim telepati. Tapi sepertinya belum cukup sakti untuk menyampaikan pikiran tanpa berucap. Tak dinanti atau mungkin memang tak ada. Yang diharapkan menjadi pengawal adalah dia yang tak ingin mengawal. Lucu ya. Terlalu lucu hingga rasa kasihan menjadi lebih dominan. Sekali lagi rasanya persis seperti entah apa itu.
Sesaat sangat ya, namun sekejap terasa begitu tidak. Dan sekali lagi, pertanyaan berputar dikepala, karena jawaban hanya akan mengumpul diperkiraan.

Selasa, 20 September 2011

Kata inti yang ada

Terdahulu telah mampu. Lainnya menjadi enggan untuk bersapa. Sudah terbiasa dengan alpa. Dua puluh empat jam berbaur dengan hari, menjadi cerita disetiap detiknya. Ada raksasa yang selalu membayangi setiap endingnya. Lamanya cerita tak mengubah ending. Rasanya sudah teramat bosan dengan poin yang itu itu saja.
Apa salahnya berbeda ketika yang lain sama? Permainan kata berharap menyamarkan perbedaan. Tapi tetap saja terlalu mencolok diantara lainnya.
Lucu rasanya membaca ulang yang telah lalu. Campur aduknya terlalu familiar. Tapi tak urungnya untuk berpindah pada halaman selajutnya. Karena yang selanjutnya memang masih bersih. Kini terlalu letih untuk meringkas ulang semuanya. Yang terlintas bukan tentang masa lalu, tapi apa yang akan terjadi besok. Tak goyah untuk hembusan angin maupun lapuk karena panas dan hujan. Yang tak pasti belum tentu seburuk apa yang dipikirkan. Bukan tentang apa yang belum terjadi tetapi tentang apa yang menanti.
Entah itu tentang aku, kamu, dia, mereka, atau bahkan Kita.

Senin, 04 Juli 2011

Menjadi Langit Sore

Disaat kaki terlalu lelah untuk melangkah dan kata enggan terucap, bahkan untuk sekedar tersenyum. Tiba-tiba gerutuku terusik.
Oranye, begitulah kira-kira warna langit saat itu. Hangat menyapaku. Aroma khasnya menerpa wajahku. Menari seperti anak kecil bermain balon. Riang.
Menyadarkanku dari lamunan. Dan membuatku menyukai sore. Ya, Langit Sore!

Sehingga tak ada kata sendiri lagi, karena Langit Sore selalu ada :)