Yang semu itu makin mengabur. Semakin abu abu. Padahal kemarin sempat terlihat berwarna. Semangat menurun karena angin. Terasa berputar dan limbung. Tubuh terhempas di tanah yang kering. Suara gedebum terdengar memecah terik, menerbangkan tanah yang tanpa lembab. Serasa semua menjadi gersang.
Sempat terpikir, "Wah, masa aku tamat?". Tapi keinginan untuk terus mewarnai apa yang sempat berwarna semakin meluap, bukan menguap.
Mengambil spidol dan crayon, "maaf pensil, kamu istirahat dulu". menebalkan apa yang mengabur dan mewarnai apa yang abu abu.
Melenyapkan monoton, mungkin kata yang tepat untuk menjelaskan situasi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar