Sabtu, 10 Maret 2012

Si Gembul Sore Hari

Rasanya begitu menyenangkan ketika sedang mengabadikan sore, mengamati gerak gerik setiap orang yang hilir mudik, lalu lalang bersliweran menikmati sore. Jeprat sana jepret sini berusaha menciptakan sore yang teduh dan menyenangkan. Jalan dari ujung sampai ujung untuk ikut menikmati keasyikkan yang sedang dilakukan orang-orang. Sesekali duduk mencari gambar yang mungkin bisa menjadi sesuatu yang fantastis. Tapi dasar amatiran, jadi hanya jeprat jepret kurang jelas yang ada.
Sedari tadi mondar-mandir, aku tertarik untuk mengamati bocah cilik yang sejak aku datang tadi dia masih berlari-lari kesana kemari, tertawa tawa merasa menang lari dari ibunya. Kira-kira 3 tahun umurnya. Lincah, enerjik, riang dan yang jelas lucu. Sembari disuapi ibunya ia terus berlari-lari. 
Dari seberang jalan aku mencoba mengambil gambarnya. Tapi karena faktor keamatiran,, maka luput semua. hahaha
Akhirnya aku menyeberangi jalan dan coba mengambil gambar dari jarak yang lebih dekat. Dengan hati-hati, pelan dan pasti, supaya tidak membuatnya takut atau kaget, agar keceriaannya tetap nyata. Ternyata usahaku sia-sia. Ancang-ancangku tidak berpengaruh. Karena si bocah dengan polosnya malah bertanya pada ibunya "mah, aku mau dipoto ya?" . Gubrak!
Ibunya senyum ramah dan aku salah tingkah. Ku balas senyum ibunya (berusaha terlihat cool), dan aku pun bertanya pada ibunya "maaf bu, boleh saya foto putra ibu?" , ibunya mengangguk dan tersenyum. Setelah itu aku langsung menghampiri adiknya dan berkata "adek mau kan difoto sama embak?" dan si bocah senyum kegirangan. Cukup sekali jepret dan voila, aku cukup puas dengan hasilnya.
Senyumnya ramah, tulus, polos, penuh imajinasi, penuh tanya, dan terlihat sangat bahagia.
Aku pulang dengan senyum mengembang dan tak sabar untuk segera melihat dan mencetak hasilnya.
Benar-benar multivitamin. Terimakasih pipi gembul :)

Jumat, 09 Maret 2012

yang gamblang tapi tak lugas

Berhentilah mengasihani diri sendiri dan mulailah untuk melihat sekitar. Berhenti berpikir bahwa segala sesuatunya hanya berputar pada dirimu sendiri. Karena dunia selalu berputar untuk semua orang. Mulai menghargai orang lain untuk dapat menghargai diri sendiri. Jika berbuat baik bisa begitu menyenangkan, kenapa harus berbuat buruk? Apakah akan jauh lebih menyenangkan?
Oke, yang di atas adalah sejenis hidangan pembuka.
Makin hari rasanya makin berantakan, makin tak karuan. Kembali menjadi bukan siapa-siapa yang tak tau apa-apa mungkin sebuah pilihan yang brilian. Biarkan rotasinya berputar mundur atau mungkin membutuhkan alat bantu mesin waktu milik Doraemon yang biasanya aku tau lewat komik atau kadang sering aku lihat di televisi. Rasanya bisa begitu menyenangkan saat suatu pilihan bisa jatuh dengan benar. Sekarang kan sudah tau kesalahannya, maka masih ada waktu untuk memperbaikinya. Tapi itu lagi-lagi hanya khayalan tingkat tinggi untuk memutar kembali waktu.
Mulanya berawal dari sebuah cerita yang tidak jelas asal-usulnya. Berawal pada keruwetan yang makin ruwet dari waktu ke waktu. Rancu dan tidak jelas arah dan tujuannya. Mungkin pada awalnya begitu jelas dan terang, tapi lagi-lagi hanya sebuah iming-iming yang baru diketahui bahwa arahnya belum jelas. Makin berpikir, maka makin ruwet benangnya, karena kapasitas otakku yang memang lemah untuk mendeskripsikan sesuatu dengan baik.
Bukan sebuah perlombaan untuk mendapatkan piala dan penghargaan lainnya. Tapi ini hanya tablet kehidupan yang salah telan oleh bocah yang masih begitu bahagia dengan bla bla bla. Khasiat dari tablet itu dengan cepat menjalar disetiap darah dan akahirnya membuat bocah itu lemas dan sesak nafas karena OD.
Bukan saatnya dan memang bukan dosisnya menelan utuh tablet itu. Tapi tak ada yang bisa disalahkan dalam kasus ini, karena bocah itu sendiri yang ingin menelan utuh tablet itu karena iming-iming yang baginya sangat menyenangkan dari sekedar bla bla bla. lagipula si bocah masih mencoba mencari tau apa itu tablet kehidupan yang selalu ia perhatikan dan ia dengar gembar gembornya dari si penjual yang selalu berteriak-teriak dikeramaian pasar.
Kini si bocah hanya tergolek tak berdaya di tempatnya karena OD, dan sekali lagi memang tak ada yang dapat disalahkan. Hanya dia, penjual obat dan tablet kehidupan.

Kamis, 08 Maret 2012

Langit Sore yang Selalu Dirindukan

Bukan murung, bukan sedih, bukan kecewa, mungkin lebih tepatnya sepi. Rasa yang entah pantasnya diibaratkan dengan apa. Hey, seharusnya aku melanjutkan pekerjaan penentu yang terbengkalai satu minggu ini. Tapi ternyata untuk melanjutkan rasanya begitu kabur. Alasan klise adalah "belum mendapat wangsit". hahaha
Aku begitu merindukan warna oranye itu. Sore terang yang menyemarakkan hari. Begitu teduh dan begitu nyaman. Langit akhir-akhir ini terlalu abu-abu. Rasanya tidak bersemangat dan tidak semarak. Membuat hati ikut murung dan gundah.
Saat langit begitu oranye, selalu ada waktu untuk bercengkerama atau bahkan hanya bertegur sapa. Tapi sekarang rasanya begitu egois. Tak lagi ada waktu yang cocok untuk bercengkerama. Semua hanya singgah untuk berdiam dan asyik dengan aksi masing-masing. Halo, masih adakah pembicaraan ringan yang menyenangkan seperti dulu? atau sekarang hanya sekedar sambil lalu?
Secangkir cokelat hangat menemaniku bercerita malam ini. Bukan curhatan anak gaul yang berbahasa begitu lugas. ini hanya sekedar kata-kata yang terangkai begitu saja tanpa komando. Yang meluncur tanpa rem pakem yang bisa membatasi gerak. Sekali lagi, ini hanya sekedar rangkaian kata-kata tanpa komando yang meluncur dan menjadi sebuah cerita singkat tanpa kejelasan.
Sejenis absurd namun ini juga realistis. Ketika merindukan hal yang begitu menenangkan. Keakuan yang seringkali timbul tenggelam dalam tanda tanya besar. Untuk apa aku begini? Oranye ! ya untuk menjadikan orang-orang ikut merasakan hangatnya oranye. Berbuat baik itu hal yang baik kan? tapi saat kebaikan hanya dipandang sebelah mata? hanya dianggap agar bisa menjadi ajang untuk meminta timbal balik dan sebagainya, lalu apa gunanya berbaik hati?
hahaha,, obrolan makin mengerucut, maka sudahi saja cerita kali ini.

Rabu, 07 Maret 2012

Bukan Dunia Dongeng

Kereta kuda, lampu warna-warni, peri, istana, gaun yang cantik, pangeran, Happy Ending.
Kira-kira begitu akhir dari cerita dongeng. Bahagia dan selalu menarik untuk dijadikan lamunan ataupun khayalan yang tanpa akhir. Menari dan terangkai secara otomatis. Terprogram untuk mendapatkan Happy Ending.
Pada kenyataannya khayalan adalah lamunan tanpa batas dan sering kali menjerumuskan pada apa yang disebut dengan kekecewaan. Miris rasanya saat menyadari disekeliling kita ada yang menangis karena 'khayalan'nya buntu. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Menyalahkan mimpi? atau khayalan? atau malah menyalahkan mereka yang bermimpi dan berkhayal?
Tak ada yang dapat disalahkan. Karena mimpi hadir begitu saja dan terprogram secara otomatis untuk dipikirkan. Kehidupan tanpa celah.
Yang terpenting adalah selalu sadar bahwa kenyataannya hidup Bukan Dunia Dongeng.

segambar raut warna

Yang semu itu makin mengabur. Semakin abu abu. Padahal kemarin sempat terlihat berwarna. Semangat menurun karena angin. Terasa berputar dan limbung. Tubuh terhempas di tanah yang kering. Suara gedebum terdengar memecah terik, menerbangkan tanah yang tanpa lembab. Serasa semua menjadi gersang.
Sempat terpikir, "Wah, masa aku tamat?". Tapi keinginan untuk terus mewarnai apa yang sempat berwarna semakin meluap, bukan menguap.
Mengambil spidol dan crayon, "maaf pensil, kamu istirahat dulu". menebalkan apa yang mengabur dan mewarnai apa yang abu abu.
Melenyapkan monoton, mungkin kata yang tepat untuk menjelaskan situasi ini.

waktu yang Tepat

Menjalani apa itu rasa. yang alami dan tidak mengada ada. yang murni tanpa imbuhan. yang mengalir tanpa tekanan. cukup melayang, merasakan setiap rasa yang hadir. menghargai setiap nafas yang sering kali tak dianggap.
Hanya berputar dengan dunia keakuan. sehingga lupa dengan asa.
Lalu datang hari dimana semua terasa begitu manis.
Hadir bukan pada saat diharapkan, namun hadir diwaktu yang tepat. sekali lagi, begitu manis. antara nyata dan percaya, lalu berbaur menjadi kenyataan untuk percaya.
Bahwa rasa itu menjadi lengkap. begitu nyata dan berwarna. emosi yang sempat padam.
Kini tidak lagi berputar pada keakuan, namun telah menjadi waktu untuk berputar pada rasa. sesuatu yang manis. dan kini asa itu hadir. untuk menjadi indah pada waktunya.

Jumat, 24 Februari 2012

tentang prolog dan epilog titik

Rasanya semakin lama semakin memudar. Saat yang lain sibuk terlelap, aku malah terjaga. Ini bukan cerita aku dengan siapa, aku siapa, aku sedang apa atau bagaimana. Ini hanya sekelumit cerita yang pastinya sangat membosankan untuk sekedar disimak. Karena memang tidak ada habisnya, tetapi jelas akan menjumpai titik. Walaupun mengambang tanpa kejelasan.
Alamatnya sebetulnya jelas dan gamblang tersirat, tapi saat tersurat bisa begitu sulit, maka pertanyaan kembali berputar. Kemana bahasa yang tersirat sebelumnya. Kembali memutar otak. Memeras apa itu pola pikir. Waw. Masih tetap sama. Nol.
Ibarat kejadian, mungkin mirip dengan air yang akan mendidih. Blutuk blutuk. Pilihannya dibiarkan lalu meluap kemana mana, atau matikan kompornya.
Sekarang masih tetap sama, berkutat dengan cerita tanpa awal dan akhir. Tanpa start dan finish. Tanpa jeda. Mungkin lebih mirip iklan atau poster jalan raya yang lapuk. Hanya sebuah prolog dan epilog dengan tambahan titik.