Jumat, 09 Maret 2012

yang gamblang tapi tak lugas

Berhentilah mengasihani diri sendiri dan mulailah untuk melihat sekitar. Berhenti berpikir bahwa segala sesuatunya hanya berputar pada dirimu sendiri. Karena dunia selalu berputar untuk semua orang. Mulai menghargai orang lain untuk dapat menghargai diri sendiri. Jika berbuat baik bisa begitu menyenangkan, kenapa harus berbuat buruk? Apakah akan jauh lebih menyenangkan?
Oke, yang di atas adalah sejenis hidangan pembuka.
Makin hari rasanya makin berantakan, makin tak karuan. Kembali menjadi bukan siapa-siapa yang tak tau apa-apa mungkin sebuah pilihan yang brilian. Biarkan rotasinya berputar mundur atau mungkin membutuhkan alat bantu mesin waktu milik Doraemon yang biasanya aku tau lewat komik atau kadang sering aku lihat di televisi. Rasanya bisa begitu menyenangkan saat suatu pilihan bisa jatuh dengan benar. Sekarang kan sudah tau kesalahannya, maka masih ada waktu untuk memperbaikinya. Tapi itu lagi-lagi hanya khayalan tingkat tinggi untuk memutar kembali waktu.
Mulanya berawal dari sebuah cerita yang tidak jelas asal-usulnya. Berawal pada keruwetan yang makin ruwet dari waktu ke waktu. Rancu dan tidak jelas arah dan tujuannya. Mungkin pada awalnya begitu jelas dan terang, tapi lagi-lagi hanya sebuah iming-iming yang baru diketahui bahwa arahnya belum jelas. Makin berpikir, maka makin ruwet benangnya, karena kapasitas otakku yang memang lemah untuk mendeskripsikan sesuatu dengan baik.
Bukan sebuah perlombaan untuk mendapatkan piala dan penghargaan lainnya. Tapi ini hanya tablet kehidupan yang salah telan oleh bocah yang masih begitu bahagia dengan bla bla bla. Khasiat dari tablet itu dengan cepat menjalar disetiap darah dan akahirnya membuat bocah itu lemas dan sesak nafas karena OD.
Bukan saatnya dan memang bukan dosisnya menelan utuh tablet itu. Tapi tak ada yang bisa disalahkan dalam kasus ini, karena bocah itu sendiri yang ingin menelan utuh tablet itu karena iming-iming yang baginya sangat menyenangkan dari sekedar bla bla bla. lagipula si bocah masih mencoba mencari tau apa itu tablet kehidupan yang selalu ia perhatikan dan ia dengar gembar gembornya dari si penjual yang selalu berteriak-teriak dikeramaian pasar.
Kini si bocah hanya tergolek tak berdaya di tempatnya karena OD, dan sekali lagi memang tak ada yang dapat disalahkan. Hanya dia, penjual obat dan tablet kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar