Saat perahu yang terombang-ambing ombak, sering kali terbersit penyesalan mengapa harus melaut. Seperti sebuah pilihan, ending apa yang telah menanti. Berharap akan tepat seperti rancangan. Tapi tak heran juga ketika akan melenceng begitu jauh. Ya, rasanya itu seperti tanpa pegangan. Terlalu yakin, khawatir akan meleset. Namun ketika tanpa keyakinan nyata, maka tak ayal menjadi begitu ringkih. Yang dipertanyakan adalah yakinkah ketika apa yang terhampar di depan adalah apa yang kita inginkan?
Terlalu ruwet pola pikir manusia. Sama seperti benang. Ketika gulungan mulai terbuka, maka tariklah hingga habis atau biarkan polanya tanpa sentuh, cukup membuka bungkusnya. Yang merasa ragu, cukup pejamkan mata dan langkahkan kaki kalian. Yang terlalu yakin, maka biarkan keyakinan itu membawa kalian entah kemana.
Seperti sebuah sisipan sebuah cerita kehidupan yang kian hari lembarannya kian penuh dengan coretan, atau mungkin akan memudar warnanya karena tak tersentuh. Bukan tentang aku atau apapun itu, tapi apa yang tersirat dalam sebuah pola pikir yang sering kali melebihi kapasitas.
Sambil terus mengetik, yang entah karena apa tapi begitu tekun menceritakan tentang hal entah apa. Berkali-kali menengok barang elektronik butut yang untuk kesekian kalinya memang tanpa ada kehidupan. Wah, sepertinya memang sendiri. Persis seperti barang mati yang berharap bakal ada sahutan dari apa yang diharapkan. Tapi sinyal sepertinya tidak mengantarkan apa yang dipikrkan. Atau mungkin telah sampai, tapi memang tidak mengharapkan sinyal yang dikirim.
Berharap semudah mengirim telepati. Tapi sepertinya belum cukup sakti untuk menyampaikan pikiran tanpa berucap. Tak dinanti atau mungkin memang tak ada. Yang diharapkan menjadi pengawal adalah dia yang tak ingin mengawal. Lucu ya. Terlalu lucu hingga rasa kasihan menjadi lebih dominan. Sekali lagi rasanya persis seperti entah apa itu.
Sesaat sangat ya, namun sekejap terasa begitu tidak. Dan sekali lagi, pertanyaan berputar dikepala, karena jawaban hanya akan mengumpul diperkiraan.
Kamis, 17 November 2011
Selasa, 20 September 2011
Kata inti yang ada
Terdahulu telah mampu. Lainnya menjadi enggan untuk bersapa. Sudah terbiasa dengan alpa. Dua puluh empat jam berbaur dengan hari, menjadi cerita disetiap detiknya. Ada raksasa yang selalu membayangi setiap endingnya. Lamanya cerita tak mengubah ending. Rasanya sudah teramat bosan dengan poin yang itu itu saja.
Apa salahnya berbeda ketika yang lain sama? Permainan kata berharap menyamarkan perbedaan. Tapi tetap saja terlalu mencolok diantara lainnya.
Lucu rasanya membaca ulang yang telah lalu. Campur aduknya terlalu familiar. Tapi tak urungnya untuk berpindah pada halaman selajutnya. Karena yang selanjutnya memang masih bersih. Kini terlalu letih untuk meringkas ulang semuanya. Yang terlintas bukan tentang masa lalu, tapi apa yang akan terjadi besok. Tak goyah untuk hembusan angin maupun lapuk karena panas dan hujan. Yang tak pasti belum tentu seburuk apa yang dipikirkan. Bukan tentang apa yang belum terjadi tetapi tentang apa yang menanti.
Entah itu tentang aku, kamu, dia, mereka, atau bahkan Kita.
Apa salahnya berbeda ketika yang lain sama? Permainan kata berharap menyamarkan perbedaan. Tapi tetap saja terlalu mencolok diantara lainnya.
Lucu rasanya membaca ulang yang telah lalu. Campur aduknya terlalu familiar. Tapi tak urungnya untuk berpindah pada halaman selajutnya. Karena yang selanjutnya memang masih bersih. Kini terlalu letih untuk meringkas ulang semuanya. Yang terlintas bukan tentang masa lalu, tapi apa yang akan terjadi besok. Tak goyah untuk hembusan angin maupun lapuk karena panas dan hujan. Yang tak pasti belum tentu seburuk apa yang dipikirkan. Bukan tentang apa yang belum terjadi tetapi tentang apa yang menanti.
Entah itu tentang aku, kamu, dia, mereka, atau bahkan Kita.
Senin, 04 Juli 2011
Menjadi Langit Sore
Disaat kaki terlalu lelah untuk melangkah dan kata enggan terucap, bahkan untuk sekedar tersenyum. Tiba-tiba gerutuku terusik.
Oranye, begitulah kira-kira warna langit saat itu. Hangat menyapaku. Aroma khasnya menerpa wajahku. Menari seperti anak kecil bermain balon. Riang.
Menyadarkanku dari lamunan. Dan membuatku menyukai sore. Ya, Langit Sore!
Sehingga tak ada kata sendiri lagi, karena Langit Sore selalu ada :)
Oranye, begitulah kira-kira warna langit saat itu. Hangat menyapaku. Aroma khasnya menerpa wajahku. Menari seperti anak kecil bermain balon. Riang.
Menyadarkanku dari lamunan. Dan membuatku menyukai sore. Ya, Langit Sore!
Sehingga tak ada kata sendiri lagi, karena Langit Sore selalu ada :)
Langganan:
Komentar (Atom)
